Wednesday, November 25, 2009

eaten alive

Apakah ada rasa cinta jika ia bermula dengan hutangnya budi?

‘Valid’kah rasa cinta itu?

Wajarkah ia digelar cinta?

Atau sekadar sesuatu yang harus dibalas untuk hutang itu?

Semoga kita semua dijauhkan dari situasi ini..

Tapi bagaimana dengan seseorang yang telah/sedang melaluinya?

Apakah kata2 yang mulut ini bisa utarakan agar permasalahannya itu selesai?

Apakah tindakan yang wajar diaksikan untuk pembalasan budi?

Semua hanya jawapan di hati seseorang itu sahaja..

Kita tak boleh menilainya dari pandangan sebelah pihak..

Tafsiran hanya dibuat apabila kita ‘memakai kasutnya’..

2 comments:

MagnusCaleb said...

cinta tidak pernah akan duduk di lingkungan hutang atau hadiah, ia diam di dalam kelasnya yang tersendiri,dan juga berdiri sebagai intiti yang tanpa kelompok :)

~~DucKneSs~~ said...

kesedaran itu juga ada dalam aku..
tapi bagaimana nak perlihatkan pada cik empunya badan ah?
mebi akan terjadi perang dingin kalo cakap..

perlu ke aku tutup mata je, dan berdoa untuk yang terbaek?